Median Rp9,2 jt/bulan · rentang umum Rp7,5 jt – Rp10,9 jt
Berdasarkan 156 lowongan Backend Development se-Indonesia (semua level).
Gaji lowongan ini 9% di atas median pasar.
Lihat data gaji selengkapnya →Deskripsi pekerjaan AI Agent Engineer (Python Backend) My Replica
Pemberitahuan (Disclaimer): Lowongan ini diterbitkan atas nama Taiwan Mobile, dan seluruh proses serta informasi terkait posisi ini akan disampaikan langsung oleh pihak perusahaan.
Ringkasan Peran
Kami mencari engineer yang mampu membangun sistem agentic yang benar-benar tahan uji di lingkungan produksi — bukan sekadar demo yang mulus di skenario ideal namun rapuh begitu berhadapan dengan pengguna sungguhan.
: seluruh lapisan pendukung di sekitar model — context pipeline, antarmuka tool, memory, orchestration, guardrail, dan observability — yang menjadikan agent andal untuk tugas-tugas berdurasi panjang (long-horizon). Prinsipnya sederhana: Agent = Model + Harness. Model kian menjadi komoditas; harness-lah yang menentukan apakah sebuah sistem benar-benar berfungsi atau tidak.
: memutuskan informasi apa yang perlu masuk ke context window, kapan waktunya, dan dalam format seperti apa (compaction, summarization, sub-agent, retrieval just-in-time) supaya agent tetap koheren lintas sesi dan tidak berhenti di tengah jalan ("early stopping").
Data lowongan bersumber dari glints. Tombol “Lamar” mengarahkan Anda ke halaman aslinya.
: strategi chunking, hybrid search (semantic + keyword/BM25), reranking, grounding & citation, serta memperlakukan retrieval sebagai tool yang dipanggil agent — bukan sekadar prefetch di awal prompt.
: test suite otomatis, LLM-as-judge, regression tracking, dan analisis failure mode, sehingga setiap perubahan pada prompt atau harness dinilai berdasarkan data, bukan asumsi.
untuk sistem agentic: tracing per langkah, token usage, latency (TTFT maupun total), cost per task, tool error rate, dan deteksi drift perilaku.
, dengan setidaknya 1 tahun pengalaman membangun sistem berbasis LLM atau agent yang berjalan di produksi (bukan sekadar proof of concept atau notebook).
Orchestration: single-agent loop, sub-agent, multi-agent, pola planner–executor — beserta pemahaman kapan pendekatan yang lebih sederhana justru lebih andal.
Sensors & guardrails: validation loop, output parser, permission/allowlist, sandbox eksekusi (Docker/E2B/Firecracker), dan human-in-the-loop approval.
Berpengalaman dalam otomatisasi dan CI/CD pipeline, termasuk menjadikan eval sebagai gate sebelum rilis untuk setiap perubahan prompt/harness.
Terbiasa bekerja dengan Docker dan orkestrasi container.
Berpengalaman melakukan deployment dan monitoring sistem AI di lingkungan produksi: token usage, latency, error rate, tool failure rate, dan cost per task.
Menampilkan dan menjelaskan diagram arsitektur sistem agentic dari proyek yang pernah ditangani, termasuk lapisan harness-nya (context, tool, memory, orchestration, observability).
Menjabarkan keputusan desain beserta trade-off-nya: pemilihan framework, strategi orchestration, batas otonomi agent, serta pertimbangan cost vs latency vs akurasi.
Menceritakan satu kasus kegagalan agent di lingkungan produksi: bagaimana kegagalan tersebut terdeteksi, ditelusuri, dan diperbaiki secara permanen di level harness — bukan sekadar tambal sulam pada prompt.
Menjelaskan strategi evaluasi yang digunakan: apa yang diukur, bagaimana regresi dicegah, dan bagaimana hasil evaluasi memengaruhi keputusan rilis.
Menunjukkan portofolio atau hasil proyek yang dibangun menggunakan Python dan framework agentic AI.